Tampilkan postingan dengan label Self-note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self-note. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2015

Menjelang Ramadhan 1436 H

Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam. Ia adalah bulan yang penuh berkah dan maghfirah. Ia adalah bulan suci yang harus diisi dengan ibadah untuk mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Ia tidak akan lama lagi tiba. Penuh syukur dalam hatiku, masih dapat dipertemukan dengan Ramadhan tahun 1436 H ini. Alhamdulillah.... ^^

Berbicara tentang Ramadhan tahun ini, ada banyak sekali perubahan dalam hidupku dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu. Ramadhan tahun ini aku kembali bekerja. Berbeda dengan dua kali Ramadhan sebelumnya, di mana aku masih berstatus mahasiswa tugas belajar. Tentu ini menghadirkan tantangan tersendiri, yaitu seputar manajemen waktu yang ketat. Keseimbangan waktu untuk bekerja, ibadah, dan kehidupan sosial harus terjaga. Dulu waktu berstatus mahasiswa aku tidak terlalu kesulitan menyeimbangkan ketiga hal ini. Namun untuk Ramadhan tahun ini, terus terang saja, semuanya menjadi jauh berbeda.

Sebagai umat muslim, aku tentu tidak ingin melewatkan keberkahan Ramadhan begitu saja, tanpa menuai manfaat yang dalam darinya. Pekerjaan yang menumpuk di kantor tidak seharusnya menjadi hambatan untuk beribadah. Semuanya harus berjalan seimbang. Di situlah pentingnya manajemen waktu yang ketat selama bulan Ramadhan ke depan. Dan itu adalah tantangan bagiku. Juga bagi kita semua yang berada pada kondisi serupa. 

Aku berharap aku dan kita semua diberikan kesempatan, kesehatan, keluangan waktu, dan kejernihan pikiran untuk dapat menjalani bulan Ramadhan tahun ini dengan baik dan lancar. Mari sucikan hati, luruskan niat. Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.

Melalui postingan ini juga aku juga ingin meminta maaf kepada rekan-rekan pembaca, seandainya dalam satu tahun sebelumnya terdapat hal-hal yang tanpa sengaja telah membuat luka di hati rekan-rekan sekalian. Mohon keikhlasannya untuk memberikan maaf.

Marhaban ya Ramadhan

Selasa, 09 Juni 2015

Obrolan Singkat

Sepulang kantor hari ini, saya menyempatkan waktu bersama teman-teman SMA hangout bareng di sebuah mal terkemuka di Jakarta. Awalnya acara itu direncanakan untuk merayakan mutasi salah seorang dari kami ke homebase-nya di Makassar. Pada akhirnya, acara itu berjalan dengan riuh tawa dan tukar-menukar pikiran dan pengalaman di antara kami. Memang seru sekali saat berkumpul dalam wadah reuni sederhana seperti ini. Tanpa banyak perencanaan, penuh spontanitas.

Berkumpullah kami malam ini, berlima, mulai membicarakan berbagai macam topik, mulai dari karier, minat, hal-hal terbaru dalam hidup, Jakarta, sampai pada gosip tentang ini dan itu. Satu di antara tema obrolan tersebut terus menggantung di pikiranku. Tema yang dimulai dengan pertanyaan yang diajukan salah seorang dari kami: "sudah puaskah kalian dengan karier yang kalian jalani sekarang?"

Pertanyaan tersebut dijawab dengan enteng saja dari mereka berempat, secara bergantian. Saya cukup heran mendapati mereka semua tidak ada yang merasa puas dengan karier yang mereka jalani saat ini. Dengan berbagai macam alasan. Ada yang berdalih karier sekarang seperti tidak memberikan tangible effect apapun, meskipun di dalamnya terdapat beragam opportunities yang bagus. Ada pula yang ketidakpuasannya diakibatkan oleh waktunya yang sangat terbatas. 

Sembari mereka menjawab satu per satu, aku merenung dalam-dalam, "bagaimana dengan saya?".

***

Jika mau jujur, saya selalu merasa bahwa karier yang tepat bagi saya adalah sebagai peneliti dan akademisi. Saya senang sekali menganalisis suatu gejala menggunakan teori-teori kontemporer, menggali gejala-gejala itu lebih dalam, lalu menuliskan hasilnya. Saya senang sekali menulis. Saya selalu ingin  mempunyai fleksibilitas waktu untuk dapat membaca berbagai macam teori, lalu menelitinyanya, dan mungkin mengembangkan teori baru berangkat dari sana. Fleksibilitas waktu yang saat ini banyak saya habiskan mengerjakan pekerjaan rutin di kantor hingga hampir tak berbekas. Sayang sekali.

Jadi, pada dasarnya saya sendiri tidak puas dengan bagaimana karier saya saat ini berjalan. Sama halnya dengan mereka, saya juga mempunyai alasanku sendiri. Harus diakui, karier yang sesuai dengan passion itu pasti jauh lebih seru! Apakah saya juga akan mengejar karier yang lebih sejalan dengan passion saya? Hmmm... Pertanyaan itulah yang sampai malam ini, pukul 11.45 WIB, masih menggantung di atas kepala saya. Menahan kelopak mata untuk terlelap.

***

Kamis, 13 Maret 2014

Kegagalan Terbesar

Lama sekali rasanya tidak menulis di blog ini. Maklum, kesibukan yang makin ke sini, makin menjadi dan rasa malas yang selalu menggerayangi tiap kali terpikir ide untuk mulai menulis. Tapi khusus malam ini, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menuliskan peristiwa yang satu ini. Ini penting. Sangat penting.

Dua hari yang lalu, salah satu dosen kami mengumumkan nilai ujian tengah semester yang telah diujikan dahulu. Awalnya saya sangat cemas akan hal ini, mengingat telah banyak kabar beredar dari kelas tetangga tentang "anomali-anomali" yang terjadi di kelas mereka masing-masing. Begitu banyak mahasiswa yang sepantasnya mendapatkan nilai yang tinggi, namun kenyataannya hanya mendapatkan nilai seadanya, bahkan nilai yang rendah dan tidak layak. Kabar ini tentu saja meresahkanku sebagai mahasiswa yang juga diajar oleh dosen tersebut. Lalu kemudian, tibalah hari dimana dosen tersebut mengumumkan nilai di kelas kami. Malangnya, nilai diumumkan secara terbuka, sehingga seluruh mahasiswa di ruangan dapat mengetahui nilai kami masing-masing. Saya pun menjadi semakin cemas... dan gelisah.

Pikiranku hanya terfokus pada nomor absenku, tidak ada yang lain, itu saja. Di hati saya hanya terus berdoa untuk menenangkan pikiran. Tak sempat lagi kudengarkan nilai-nilai yang diperoleh teman-teman lain. Hanya nomor absenku. Hanya nilaiku yang ingin kuketahui. Kemudian, tibalah saat ketika dosen tersebut menyebutkan nomor absenku bersama dengan nilai yang kuperoleh. "Nomor absen sembilan, sembilan puluh!!". Sontak, saya pun bersyukur dan secara refleks melakukan selebrasi atas hal tersebut. Senang sekali rasanya bisa mendapatkan nilai yang terbilang tinggi untuk mata kuliah yang diajar oleh dosen yang punya reputasi tidak begitu baik dalam memberikan nilai ujian. Terlarut dalam kesenangan dalam pikiranku sendiri, tak lagi kudengarkan kelanjutan pengumuman nilai yang dibawakan oleh dosen tersebut. Saya menjadi asyik sendiri.

Setelah kelas berakhir, rupanya ada beberapa orang teman yang mencatat seluruh nilai ujian mahasiswa yang diumumkan tadi. Saya pun segera melihat daftar tersebut. Saya butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa daftar tersebut sangat jauh dari apa yang kubayangkan. Mayoritas teman-temanku mendapatkan nilai yang tidak selayaknya. Seperti apa yang dikabarkan oleh kelas-kelas tetangga, penuh dengan anomali. Beberapa orang yang menurut opini pribadiku layak mendapatkan nilai tinggi, justru mendapatkan yang sebaliknya. Hanya beberapa orang, dan itu sedikit sekali, yang mendapatkan nilai yang memuaskan. Ini sangat mengejutkan, jujur saja.

Sedih sekali rasanya gagal meraih hasil yang memuaskan bersama teman-teman. Saya telah gagal sepenuhnya menjaga visi yang kucanamkan di awal semester untuk sukses bersama teman-teman yang  lain, mendapatkan nilai yang memuaskan bersama-sama, senang dan bahagia bersama-sama. Apa artinya saya sukses sendirian sementara yang lain tidak? Saya benar-benar telah gagal di sini.

Namun kegagalan terbesar yang saya maksud di postingan ini sesungguhnya bukan di situ. Itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kegagalan saya sebagai seorang manusia yang seharusnya peduli dengan sekitarnya. Bayangkan, saya sempat merasa tenang dan senang ketika pengumuman nilaiku dibacakan, tanpa memperhatikan dan mempedulikan nilai yang diperoleh oleh teman-teman yang lain. Saya hanya fokus pada diri saya sendiri! Egois! Egois sekali! Padahal begitu banyak teman yang meringkuh sedih mendengarkan hasil yang didapatkannya, namun saya, lihatlah, saya asyik sendiri dalam lamunan kemasyhuran! Menyedihkan.

Iya, saya mungkin telah gagal menjadi seorang manusia. :(



p.s.
Dear future Fadli,
Besar harapan saya, kejadian semacam ini tidak terjadi kembali di kemudian hari.


***

Kamis, 30 Januari 2014

Pelik...

Betapa sulit dan lamanya kurasakan kembali perasaan itu.
Namun ketika kurasakan, ia harus kulepas kembali dengan cara yang menyedihkan.
Dengan kedua tangan ini dengan berat hati kuakhiri semuanya.
Impian dan cita-cita pun menguap seketika.

Atas semua ini, logika dan perasaan hadir sebagai pembenar keputusan.
Keputusan yang kuambil mungkin tidak salah.
Tapi jelas itu juga tidak benar.
Pelik sekali.

p.s.
Dear future Fadli, you should learn a lot from this.



**</3**




Sabtu, 04 Januari 2014

Resahku

Sekali lagi saya dibuat bingung oleh manusia. Mereka seringkali lebih memilih membangun dinding yang tinggi di antara sesamanya, padahal mereka seharusnya dapat membangun jembatan yang luas. Dinding yang membatasi interaksi. Dinding yang kokoh tak bercelah memberi jarak mereka dari sesamanya. Bukannya jembatan yang dapat menghubungkan dan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Semuanya hanya karena status sosial, kemampuan, ketidakmampuan, masa lalu, dan lain sebagainya. 

Mereka sangat judgemental menurut saya. Sedikit-sedikit menilai dengan kecenderungan mengambil poin-poin negatif dan mengabaikan sisi positif. Menilai seseorang hanya dari satu perspektif, dari perspektif mereka sendiri, atau mungkin lebih tepatnya, dari perspektif yang mereka inginkan bukan yang sepatutnya. Padahal mereka sadar betul akan keterbatasan pengetahuan manusia, apalagi penglihatannya. Mereka belum mengenal secara dekat, tapi berani menilai sesukanya. Belum lagi pada mereka yang mendasarkan penilaian hanya pada status di media sosial. Ini sungguh naif menurut saya.

Jika pun penilaian mereka ternyata benar, apakah mereka pantas untuk membangun dinding kokoh itu? Saya pikir tidak. Toh kita ini adalah manusia, bukan robot. Manusia dapat berkembang, dapat belajar, tidak seperti robot yang telah terprogram. Dengan membangun dinding artinya kita putus asa terhadap manusia tersebut. Padahal manusia tersebut bisa jadi memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Manusia dapat belajar kawan. Lalu mengapa kita secepat itu putus asa pada mereka? Menghakimi seenaknya tanpa melihat dari berbagai sudut pandang kehidupan? Sekali lagi, ini sangat naif menurut saya.

Tak bisakah kita bersikap netral, tidak judgemental? 

***

Selasa, 31 Desember 2013

2014 dalam Resolusi

Bintaro, 31 Desember 2013
Suasana hujan sendu di penghujung tahun


Banyak yang bilang resolusi itu bisa disusun kapan saja, tidak perlu menunggu akhir tahun untuk bisa disusun seperti yang sedang ngetrend saat ini. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan opini tersebut. Menurut saya kita perlu menentukan hari yang tepat dalam menuliskan resolusi kita agar secara periodik dapat kita evaluasi pencapaiannya. Bisa dikatakan sebagai tujuan hidup jangka pendek kita. Jika kita membuat resolusi setiap hari yaa bisa sih, tapi gimana cara mengukur pencapaiannya? Apalagi kalo resolusi itu hanya disusun di memori otak yang terbatas, tidak dituliskan. Sangat naif menurut saya. Idealnya menurut saya mengukur pencapaian itu sebaiknya secara periodik, bisa setengah tahunan atau tahunan. Kalo saya pribadi memilih mengukurnya secara tahunan sebagaimana seperti apa yang telah saya terapkan sejak tiga atau empat tahun yang lalu.

Terbukti, melalui pendekatan saya ini, hidup saya menjadi lebih terstruktur terutama dalam mencapai apa-apa saja yang ingin saya raih dalam satu tahun. Contoh nyatanya adalah ketika memasuki awal tahun 2013, saat itu saya membuat resolusi begini: "Saya ingin lulus DIV STAN, kembali ke kampus lagi, belajar dengan tekun dan meraih posisi teratas dalam jenjang akademik selama masa-masa awal perkuliahan." Pada saat saya menuliskan resolusi tersebut, kepastian dibukanya pendaftaran DIV STAN masih belum jelas, simpang siur. Namun saya yakin pendaftarannya pasti dibuka, dan saya harus lulus. Alhamdulillah, Allah memang Mahaadil. Berkat usaha keras dan doa saya bersama orang tua, saya bisa lulus di sana, dan meraih peringkat satu sejurusan persis seperti apa yang saya cita-citakan. Itulah pentingnya menuliskan resolusi, kawan. Kamu akan fokus dalam mengejarnya.

Jadi menurut saya menuliskan resolusi di setiap pergantian tahun masehi/hijriyah adalah hal yang positif dan perlu untuk dibudayakan. Untuk itulah, melalui post saya kali ini, saya ingin menuliskan resolusi hidup saya untuk tahun mendatang, 2014. Beberapa resolusi di sini adalah pengembangan dari resolusi tahun sebelumnya, dan sebagian lagi adalah resolusi baru yang ingin mulai saya tempuh di 2014. Tidak perlu berpanjang-panjang lagi, berikut adalah resolusi 2014 saya.

Aspek pribadi:
  • Saya ingin memperbaiki diri saya lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang lebih ramah, santun, toleran, dan empati kepada sesama. Ini akan saya mulai dari sikap santun dan empati kepada teman-teman di sekitar, lalu mengupayakan untuk memperluas jangkauan tersebut. Harus saya akui ini adalah sebuah masalah yang pelik, sebab saya adalah seorang introvert sejati. Lebih senang sendiri dan cenderung tertutup. Namun saya harus bisa lepas dari semua itu. Dalam hal ini ada satu orang yang patut dijadikan teladan. Beliau adalah Pak Yond Rizal, mantan dosen saya di semester 7 kemarin. Beliau adalah seorang introvert juga, namun dalam kesehariannya beliau bisa menjelma sebagai seorang ekstrovert. Mungkin lebih tepatnya, extroverted introvert. Yah, saya harus bisa menjadi seperti beliau dalam satu tahun mendatang.
  • Sampai di penghujung tahun 2013 ini saya merasa masih sangat lemah dari sisi rohani. Saya adalah seorang muslim, namun rasanya masih sangat dangkal ilmu saya tentang Islam. Hafalan Qur'an pun masih seadanya saja. Di tahun 2014 mendatang, insya Allah saya akan mengejar ketertinggalan tersebut. Target awal saya adalah memulai membaca literatur-literatur tentang syariat Islam, sunnah-sunnah, serta memperbanyak hafalan Qur'an dan mengamalkannya dalam kehidupan saya. Ini sangat penting sebab saya akan membangun keluarga nantinya. Bagaimana bisa saya menjadi kepala keluarga yang andal jika pondasi agama saya sendiri masih lemah? Ini jelas tamparan bagi saya, tetapi saya percaya saya dapat berkembang dan mengejar ketertinggalan ini. Di samping itu, saya juga akan membiasakan shalat fardhu di masjid, puasa sunnah senin-kamis, serta membiasakan menunaikan shalat tahajjud di setiap malam. Mengenai hafalan Qur'an saya menargetkan diri saya telah hafal seluruh jus 30 dan surah Ar-Rahman tahun depan, insya Allah. 
  • Sifat saya yang cenderung boros dan sulit menarik garis antara kebutuhan dan keinginan adalah tantangan terbesar yang harus dapat saya atasi di tahun 2014 mendatang. Saya tidak ingin lagi hidup berfoya-foya. Saya ingin berkeluarga dan mendedikasikan hidup saya pada keluarga saya dan masyarakat. Untuk itu pola hidup sederhana harus kembali dicanangkan. Sebisa mungkin harus menghindari kebiasaan hedon yang saya sadari sangat buruk dampaknya bagi kondisi finansial saya. 
  • Membaca dan menulis saya pandang sebagai aktivitas yang penting dan saling melengkapi. Dengan banyak membaca saya menjadi bisa menulis dan dengan menulis saya menjadi bisa menyalurkan ide saya kepada khalayak sebagai bentuk aktualisasi diri saya. Untuk itu di tahun 2014 esok saya menargetkan diri saya untuk memperbanyak jumlah buku yang tamat dibaca setiap bulannya. Tahun 2013 kemarin saya dapat menyempatkan membaca 1-3 buku setiap bulannya, sehingga di tahun 2014 ini saya menargetkan 2-4 buku setiap bulannya. Ini penting karena saya menyadari bahwa buku/bacaan adalah jendela ilmu dan hanya dengan itulah kita dapat memperluas jangkauan cakrawala pengetahuan. Nah, di samping membaca, saya juga akan mempertajam kemampuan menulis saya. Melalui blog ini saya akan belajar menuliskan opini saya tentang kondisi-kondisi di sekitar saya, mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah, berita-berita yang berkembang, event-event tertentu, dan sebagainya. Di samping itu, saya juga akan mencoba menulis dalam bahasa Perancis sekedar untuk melatih diri agar kemampuan berbahasa Perancis saya tersebut tidak lenyap.
  • Kebugaran fisik saya pandang sebagai hal yang tak kalah pentingnnya. Untuk itu di tahun 2014 mendatang saya menantang diri saya untuk lebih rutin lagi berolah raga melatih kebugaran fisik saya. Jogging, renang, badminton, dan futsal adalah sarana-sarana yang dapat saya manfaatkan untuk mencapai resolusi ini. Di samping berolah raga, saya harus dapat mengendalikan pola makan saya. Saya harus sebisa mungkin menghindari junk food dan minuman bersoda. Porsi makan juga harus bisa dikendalikan, salah satunya dengan aktif berpuasa sunnah Senin-Kamis. Perbanyak minum air putih demi kesehatan ginjal dan organ tubuh secara keseluruhan. Kurangi kebiasaan begadang yang tidak perlu, jaga pola waktu tidur minimal 4 jam per hari apapun kondisinya.
  • Di tahun 2014 mendatang saya harus mengendalikan diri saya dengan lebih baik lagi. Salah satu bentuk pengendalian diri di sini adalah dengan menghindari penggunaan media sosial secara berlebihan seperti yang sudah-sudah. Saya akan lebih membatasi akses saya pada media sosial, terutama Twitter yang saya rasa lebih banyak mudhorat-nya daripada manfaatnya. Dengan demikian saya akan memiliki waktu lebih untuk peningkatan kapasitas saya sebagai seorang manusia yang berilmu. Dan satu lagi, saya ingin mengurangi sifat saya yang sering bersikap 'narsis' di depan orang-orang. Telah banyak teman yang mengkritisi sikap saya ini, dan saya patut mempertimbangkannya. Saya pikir kritik mereka ada benarnya dan saya harus berubah demi peningkatan nilai saya sebagai seorang insan.
  • Di akhir tahun 2014 saya merencanakan untuk menikah. Telah ada seorang wanita yang sangat menarik perhatian saya berkat keindahan hatinya dan kesucian agamanya. Tidak perlu saya sebutkan siapa nama wanita tersebut dan darimana asalnya. Yang jelas saya sangat menghormati dan menyayangi dia dan ingin menjadikannya pendamping hidup saya. Saya yakin dengan bersamanya saya dapat bertransformasi sedemikian rupa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari siapa saya sekarang. 
Aspek sosial:
  • Keluarga adalah pendukung utama saya dalam hidup ini. Untuk itu di tahun 2014 mendatang saya ingin terus menjaga kedekatan saya dengan keluarga besar saya di Makassar. Saya ingin lebih aktif menghubungi mereka ketika saya sedang lowong, meski hanya sekedar mananyakan kabar. Terutama untuk mama dan bapak saya, mereka telah semakin renta. Saya harus makin pengertian kepada mereka dan menjadi pendengar yang baik terhadap perkataan mereka.
  • Di tahun 2014 saya akan memperbanyak teman dan memperluas jaringan saya, namun tentu dengan tetap mempertahan relasi-relasi yang telah terbangun sebelumnya. Saya yang sekarang cenderung sulit untuk berteman karena kepribadian saya yang tertutup, sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Namun di tahun 2014 dan tahun-tahun setelahnya, saya harus berubah. Harus! Saya teringat dengan pesan mas Safatul tahun lalu, beliau menilai saya akan sempurna jika saya mampu membangun relasi dengan lebih baik lagi dan tidak menutup diri seperti kondisi saya sekarang. Untuk itu, pada tahun 2014 ini saya akan aktif berinteraksi dengan teman-teman sejawat dan rekan-rekan kerja serta lebih terbuka kepada sesama sebagaimana pesan mas Safatul tersebut.
  • Di samping kedua hal tersebut di atas, pada tahun 2014 mendatang saya ingin melihat diri saya aktif dalam memberikan infaq dan sedekah kepada sesama. Saya harus menyadari bahwa pada setiap keping harta saya terselip hak-hak mereka yang tidak mampu, untuk itu saya harus secara lebih aktif lagi berbagi kepada mereka semua.
Aspek karir dan pendidikan:
  • Dari aspek pendidikan, pada tahun 2014 saya masih akan menjalani semester 8 dan 9 di program DIV ini. Terkait hal tersebut, saya harus mampu mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi yang telah saya raih di semester 7 kemarin, yaitu menjadi yang terbaik se-jurusan. Kalau kemarin saya menjadi yang kedua se-angkatan, kalah dari Rifky Kusuma Wardana (Kika), maka pada tahun 2014 mendatang saya harus bisa menjadi yang terbaik se-angkatan. Namun demikian, saya harus tetap menjaga hati saya agar terhindar dari penyakit kesombongan yang menyesatkan. Saya harus menjaga hati saya untuk tetap tawaddhu sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah SAW.
  • Saya juga perlu mempersiapkan bahan untuk penyusunan skripsi saya. Saya bermimpi untuk menyusun skripsi yang apik dalam bahasa Inggris. Dengan kemampuan saya yang sekarang, ini mungkin akan sulit. Namun sekali lagi, saya yakin bisa belajar dengan baik, mengembangkan diri saya dan meraih target tersebut. 
  • Dari aspek karir, saya tidak ingin ketinggalan pengetahuan dan wawasan di bidang perpajakan selama mengikuti perkuliahan DIV ini. Untuk itu saya perlu mengaktualisasi diri saya untuk aktif membaca update aturan-aturan perpajakan terbaru demi menyamakan level saya dengan level teman-teman di kantor. Saya tidak boleh berdiam diri dan berpangku tangan. Saya tidak boleh nyaman berdiam di zona nyaman. Saya harus aktif belajar dan terus memacu diri demi kesuksesan karir saya di dunia, tentu dengan tidak melupakan akhirat saya.

Demikian resolusi hidup saya untuk tahun 2014. I do have a good feeling about starting this new year! Semoga apa yang saya rencanakan sesuai dengan perencanaan Allah SWT, sehingga dengan segenap usaha dan doa, saya dapat merealisasikan semuanya. Bismillahirrohmaanirrohim.



***

Rabu, 18 Desember 2013

Pada Kebebasan Alam

Hantaran suara angin dan gemericik air begitu pekat di telinga.
Rumput bersenandung, memecah kesunyian.
Laksana berbicara satu sama lain.
Menceritakan kita, manusia yang terkekang.

Di hadapanku api unggun menari-nari mempertontonkan kebebasan.
Asapnya mendung, hadirkan nuansa.
Bagai tak berbatas menembus kasta.
Manusia hanya bisa diam, terkekang.

Dari jauh kuperhatikan seratus semut saling menyapa.
Dengan khidmat dan sepenuh rasa hormat.
Sangat lepas mengikuti hasrat.
Semestaku indah, kupandang tak terkekang.

Lantas mengapa kita, manusia tak bisa demikian?
Membebaskan diri dari kekangan kelam?
Alih-alih diam dalam kesunyian.
Hanya bisa memandang datar.
Mengagumi kebebasan semesta!



***

Pos Perkemahan Pakis, Curug Cilember.

Senin, 16 Desember 2013

Buat Apa Berharap Surga?

Alkisah, tiga orang sedang menanti di pintu surga. Mereka adalah seorang pejuang, seorang bijak, dan seorang dermawan. Setelah melewati saringan yang cukup berat, sampailah mereka pada ujian yang terakhir. Ujian ini sangat penting dan amat menentukan sukses-tidaknya mereka dalam mencapai surga.
Orang pertama dipanggil. Ia berjalan dengan langkah yang gagah.
“Apa yang telah engkau lakukan di dunia?”, Tanya malaikat.
“Aku adalah pejuang yang gagah berani. Aku telah membebaskan negeriku dari cengkeraman penjajah.”
Anehnya, si malaikan sama sekali tidak terkesan.
“Mengapa engkau melakukan ini semua?”, Tanya malaikat penuh selidik.
“Aku ingin berjuang bagi banyak orang. Yang kucari adalah ridha Allah. Aku ingin mati syahid.”, jawab lelaki itu. Kali ini suaranya terdengar agak bergetar.
“Engkau bohong!”, kata malaikat tegas, “Sebenarnya engkau menginginkan namamu harum dan termasyhur. Engkau ingin disebut pahlawan yang gagah berani. Sekarang jawablah pertanyaanku, bukankah semua yang kau inginkan itu sudah kau dapatkan di dunia?”

Orang kedua dipanggil dan kepadanya diajukan pertanyaan yang sama.
“Aku adalah seorang bijak,” katanya, “Hidupku kuabdikan dengan memberikan motivasi dan pencerahan untuk orang banyak. Banyak orang yang telah berubah setelah mendengarkan kata-kataku.”
Namun malaikat sama sekali tak terkesan.
“Mengapa engkau melakukan semua ini?” tanyanya datar.
“Aku ingin mengabdikan hidupku di jalan Tuhan. Aku ingin semua orang berduyun-duyun ke arah kebaikan. Aku ingin mengubah nasib bangsaku.”
“Engkau bohong!”, kata si malaikat. Ia menatap tajam si orang bijak. Begitu tajamnya hingga si orang bijak pun akhirnya tertunduk.
“Engkau melakukan semua itu supaya orang-orang memanggilmu dengan sebutan orang bijak. Engkau ingin menjadi terkenal, ingin dielu-elukan. Engkau menginginkan kemasyhuran. Bukankah engkau sudah mendapatkan kekayaan dan pengaruh yang luar biasa? Bukankah apa yang engkau cari sudah kau dapatkan semua di dunia??

Akhirnya, tibalah giliran orang ketiga.
“Selama hidupku aku selalu membelanjakan hartaku untuk mereka yang membutuhkan. Aku rajin bersedekah. Aku melakukan ini semua karena aku sangat mengasihi orang lain.”
“Engkau bohong!”, ujar malaikat. “Semua itu kau lakukan agar engkau disebut dermawan. Bukankah semua yang kau cari itu telah kau dapatkan di dunia? Lantas apa lagi yang kau cari di surga?
Pembaca sekalian, pertanyaan manakah yang lebih penting: “Apa yang kita lakukan” atau “Mengapa kita melakukannya”?
Bagi orang lain, pertanyaan yang paling penting adalah “apa yang kita lakukan”, sementara bagi diri kita sendiri, pertanyaan yang terpenting adalah “Mengapa kita melakukannya”.

Coba renungkan sebentar paragraf di atas. Pertanyaan pertama berkaitan dengan tindakan, sementara pertanyaan kedua berkaitan dengan motivasi. Sebuah tindakan yang sama bisa saja dilatarbelakangi oleh motivasi dan niat yang berbeda. Namun bagi orang lain, terlepas dari apapun motivasinya, yang terpenting adalah apakah tindakan tersebut bermanfaat bagi orang banyak. Dalam hal ini tidak ada bedanya apakah kita menolong orang karena semata-mata ingin menolong maupun karena ingin dikenal dan dipuji. Hal yang terpenting adalah apa yang kita lakukan itu bermanfaat.
Bagaimanapun, bagi diri kita sendiri yang paling penting justru adalah motivasinya. Hanya motivasi yang benarlah yang membuat perbuatan kita bermakna. Hanya motivasi yang benarlah yang dapat membuat kita merasakan kebahagiaan sebagai akibat dari tindakan kita.
Di dunia ini berlaku hukum pertukaran. Tindakan apapun yang kita lakukan selalu menghasilkan pertukaran. Pertukaran tersebut senantiasa terjadi secara tepat. Apa yang kita berikan selalu akan kita terima kembali hingga semuanya menjadi impas.
Ketika kita menyumbang korban bencana dengan maksud menciptakan citra yang positif, kita akan mendapatkannya. Di sini pertukaran telah terjadi dengan seimbang. Materi bertukar dengan citra. Ketika berbicara di depan orang banyak untuk mendapatkan popularitas, kita juga akan mendapatkannya. Kita telah mencapai apa yang kita targetkan. Pertukaran yang seimbang telah terjadi, kali ini spiritualitas telah ditukarkan dengan popularitas.
Jadi semuanya sudah tuntas. Semua yang kita cari sudah kita dapatkan. Lantas buat masih mengharapkan surga?
Surga adalah sebuah konsep spiritualitas. Walaupuns sering digambarkan sebagai tempat yang indah dengan kebun-kebun yang segar, makanan yang enak, dan bidadari yang cantik, surga sebetulnya bukanlah sebuah konsep materi. Oleh karena itu, surga hanya dapat membukakan pintunya kepada manusia yang masih menyisakan pertukaran spiritualitas di dalam setiap tindakannya.
Bila semua tindakan kebaikan yang kita lakukan telah kita terima balasannya dalam bentuk materi, ketenaran, citra, pengaruh, dan sebagainya, saya kira tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk spiritualitas. Bukan begitu?
Tidak ada lagi “ruang rahasia” yang hanya diketahui oleh kita dan Tuhan. Semua ruangan telah menjadi ruangan publik. Padahal, hanya penyisaan ruangan bagi spiritualitas tersebutlah yang menghasilkan kebahagiaan dan surga pada akhirnya. 
Marilah kita lakukan sebuah kebaikan kepada seorang nenek tua di jalan. Berikan ia uang dalam jumlah yang agak besar dan perhatikan air matanya yang menetes. Mungkin nenek itu akan terpana, berterima kasih, serta mendoakan kita. Nikmati sajalah pengalaman itu Ini adalah sesuatu yang sangat spiritual, sesuatu yag hanya merupakan rahasia kita dan Tuhan.

Namun sering kali ada bisikan di hati untuk menceritakan kejadian yang mengharukan ini kepada orang lain. Kalau kita merasa keinginan tersebut begitu kuat, cobalah kita ikuti. Hal yang menarik, begitu kita selesai menceritakan hal tersebut, seketika itu juga kebahagiaan yang kita rasakan sebelumnya menghilang dan lenyap begitu saja. Ini bukan berarti bahwa kita tidak mendapatkan balasan apapun. Sama sekali tidak. Ini hanya menunjukkan bahwa balasan spiritual yang tadi kita rasakan telah berganti balasan materi. Kebahagiaan telah kita tukarkan dengan citra dan popularitas.

Kita telah menukarkan SURGA dengan DUNIA!!

***

Disadur dari Buku You Are Not Alone karangan Mas Arvan Pradiansyah.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.


Senin, 09 Desember 2013

Move-on

Sejak kandas di hubungan terdahulu, saya menjadi semakin pesimis pada cinta. Takut. Saya selalu merasa cinta hanyalah sebuah hukuman yang akan menyakiti pihak-pihak yang mencinta. Hanya dua jenis cinta yang saya yakini saat ini, cinta antara hamba dan Tuhannya serta cinta antara anak dan orangtuanya. Selebihnya adalah cinta yang menyesatkan dan menyakiti. Itulah yang kupercayai, paling tidak sampai saat ini..

Memang benar sejak putus dengan si mantan di pertengahan tahun 2010, saya tidak pernah lagi menjalani hubungan serius dengan wanita manapun. Yang ada hanyalah hubungan pertemanan atau persahabatan. Saya enggan untuk terlibat dalam percintaan lagi. Butuh waktu mungkin klasiknya. Tapi ya begitulah realitasnya, saya pesimis pada kebahagiaan yang konon katanya bisa hadir dari benih cinta. Akibatnya, selama lebih dari tiga tahun saya terus menghabiskan waktu sendirian, mencukupkan bahagiaku dan sedihku sendirian, tanpa ada yang tahu atau mau tahu. Bermain di wilayah aman, wilayah kesendirianku denganku.

Banyak yang bilang saya tidak bisa move-on. Hmm... Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pernyataan itu. Saya bisa kok move-on. Saya bisa kok tidak memikirkan dia lagi. Meski awalnya susah, tapi sekarang saya sudah sepenuhnya move-on kok. Satu-satunya alasan mengapa saya masih sendiri adalah trauma. Itu saja. Saya menolak untuk menjalani hubungan bernama "pacaran". Pacaran itu hanya akan membawa pada kehancuran, itu yang kuyakini. Saya mencari hubungan yang serius dengan wanita yang kupandang tepat. Kalaupun saya masih sendiri saat ini, itu karena saya terus berusaha mencari "dia" yang ditakdirkan sebagai jodohku di masa depan. Dan ini adalah bagian tersulit. Mencari "dia" yang benar-benar tepat untukku inilah sebuah riddle yang sampai saat ini masih berusaha untuk kupecahkan.

Siapapun dia, saya yakin dialah yang terbaik buatku. Mungkin, saya hanya perlu bersabar beberapa tahun lagi, hingga tiba saatnya saya dan dia dipertemukan...


***

Sabtu, 23 Maret 2013

Kehilangan Banyak Hal, Apa yang Salah?

Beberapa hari ini terjadi rentetan musibah di dalam kehidupanku. Dimulai dengan kehilangan kacamata saat liburan di Bali, lalu kehilangan sepatu kerja, terakhir kehilangan smartphone. Anehnya, ketiga barang tersibut hilang dalam rentang waktu hanya tiga hari. Bayangkan!

Rentetan kehilangan itu dimulai dengan kehilangan kacamata saat liburan di Bali beberapa hari yang lalu, persisnya di mushollah area wisata Garuda Wisnu Kencana kira-kira pukul 15.00 WITA pada tanggal 18 Maret 2013. Padahal kacamata tersebut hanya ditinggal sebentar lho. Tidak sampai 5 menit, tiba-tiba kacamata tersebut lenyap tanpa bekas di tempatku menaruhnya. Berikutnya adalah kehilangan sepatu yang saat itu tertinggal di mobil Travel yang kami sewa untuk mengelilingi Bali. Ini terjadi pada tanggal 19 Maret 2013. Untuk kehilangan sepatu ini murni adalah kecerobohan saya. Selajutnya adalah kehilangan salah satu barang paling berharga yang saya memiliki saat itu, smartphone saya yang terjadi pada tanggal 20 Maret 2013. Saya sebut smartphone tersebut berharga bukan karena histhorical cost-nya, tetapi lebih kepada nilai fungsi smartphone tersebut (termasuk segala data di dalamnya) :(

Musibah tersebut terjadi secara berurutan dari tanggal 18 sampai 20 Maret 2013. Sangat menyedihkan dan jujur saja itu sangat menakutkan. Saya takut ini merupakan teguran dari Sang Khalik kepadaku yang mungkin lupa menunaikan kewajiban. Na'udzubillahi min dzalik.
Sempat saya terpikir, mungkin ini adalah cara Allah SWT mengajarkan padaku bahwa tidak ada hal di dunia ini yang sempurna. Tidak ada yang abadi. Makhluk hidup saja tidak abadi, apalagi benda? Dengan cara begitu saya dituntut untuk belajar sabar, sabar, dan sabar. Sabar menerima musibah kehilangan tersebut dan senantiasa ber-positive thinking kepada-Nya. Lagipula sangat tidak masuk akal jika kehilangan benda remeh temeh saja sampai membuat kita terpuruk, bukan? Apalagi kalau sampai durhaka pada Allah. Ingat, barang-barang tersebut bisa dibeli, tetapi bagaimana dengan iman? Iman tidak dijual dimana pun sobat! Peliharalah imanmu dengan baik, meskipun kamu harus kehilangan banyak hal karenanya.

Sejauh ini ada beberapa hikmah yang kuperoleh dari musibah ini. Salah satunya adalah bahwa saya terlalu sering membeli barang-barang yang bisa dibilang tidak penting. Saya berbelanja tidak berdasarkan skala prioritas yang berdampak pada buruknya kondisi keuanganku saat ini. Allah SWT dengan ke-mahabijaksana-Nya mengajarkan padaku untuk kembali hidup sederhana dan tidak berlebihan. Buktinya setelah kehilangan barang-barang tersebut saya tidak terlalu merindukannya. Mengapa? Karena sejatinya barang-barang tersebut tidak terlalu ku butuhkan. Barang-barang yang hanya menunjukkan prestige. Barang-barang yang dibeli karena memperturutkan hawa nafsu. Sehingga ketika barang-barang tersebut lenyap, life's go on. Hidup tetap berlanjut tanpa ada masalah yang berarti.
Sungguh luar biasa bijaksananya Allah dalam menempa diriku. Terima kasih ya Allah. Terima kasih. Puji syukur atas segala petunjuk dan rahmat-Mu yang tak pernah lelah.


Jadi, kesimpulannya adalah bisa jadi rentetan musibah ini merupakan cara Allah untuk mendekatkanku kembali kepada-Nya. Toh, Allah tak akan pernah memberikan cobaan/musibah yang tak mampu dijalani oleh hamba-Nya bukan? Aku yakin akan mampu melewati cobaan ini, sehingga nanti setelah berhasil melewatinya, tidak salah lagi saya telah menjelma menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amiiiin...

Sekian post saya kali ini. Semoga bermanfaat buat kita semua :')

Kamis, 14 Maret 2013

Kebakaran Kantor Musibah atau Anugerah?

Sesuai judul entri kali ini, telah terjadi insiden memilukan pagi ini di kantorku, yup, kebakaran! Pada awalnya, saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor pagi ini semuaya tampak biasa, kecuali ada segelintir orang yang menunjukkan keramaian tidak biasa di depan lobi kantor. Namun otakku yang masih waras ini tentu tidak akan berpikir sejauh itu bahwa apa yang sesungguhnya terjadi adalah insiden kebakaran.
Kondisi di depan lobi kantor, menampilkan beberapa mobil pemadam kebakaran
Sehabis memarkir motor di basement 2, aku segera naik ke atas untuk absen fingerprint. Di dalam lobi kantor ternyata dipenuhi para pegawai yang tampak gelisah. Sontak firasatku menjadi tidak enak. Aku segera mencari kenalan, lalu bertanya ke ybs mengenai apa yang terjadi. Beliau pun menjelaskan bahwa telah terjadi kebakaran di lantai 27 dan 28 yang mengakibatkan power generator gedung utama (gedung tempatku bekerja) rusak dan tak dapat berfungsi sama sekali. Alhasil, listrik padam, lift tak dapat diakses, dan ruangan lobi itu dipenuhi bau asap yang menusuk sampai ke paru-paru. Tak lama kemudian, seluruh pegawai diminta oleh petugas keamanan untuk keluar meninggalkan lobi demi keselamatan masing-masing. Kami pun bergegas keluar menunggu tanpa ada kepastian. Seperti perkiraan, mobil pemadam kebakaran pun tiba dan parkir di depan kantor kami.

Sampai pukul sebelas ngalor-ngidul di 'teras' kantor sambil menunggu kepastian, kami bertiga, aku, dian, dan mbak yayuk pun memutuskan untuk beranjak ke tempat makan untuk makan siang tentunya sekalian menunggu listriknya nyala. Tempat makan yang kami tuju adalah sebuah warung dengan masakan khas manado yang tentu tidak akan saya bahas mendalam di entri ini. Lanjut, jadi kita makan di sana sampai pukul 13.00 kemudian tersiar kabar bahwa berdasarkan hasil rapat seluruh kasubdit Tata Usaha dan bidang kepegawaian kantor, diputuskan bahwa hari ini gedung tidak dapat dipergunakan dan diharapkan kepada pegawai untuk stay di kawasan kantor menunggu absen sore. Yup, kewajiban absen sore tetap ada, jadi kantor tidak 'libur' seutuhnya. Menyikapi hal ini sebagian pegawai memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan plasiran ke mall-mall atau tempat hiburan sekitar kantor. Lucu, mengingat ini adalah jam kerja yang tidak sepantasnya dipergunakan dengna demikian. Nah, sebagian lagi memutuskan untuk pulang menunggu jam absen sore tiba. Yang masih menunggu di kantor saat ini hanya sebagian kecil, sangat kecil, pegawai yang harus saya akui punya integritas dan loyalitas yang luar biasa. *angkat topi*
Beberapa pegawai teladan yang masih setia menunggu

Saya sendiri? Saya tidak dapat menahan godaan untuk menghabiskan waktu itu di kost dengan anggapan bahwa menunggu di kantor tanpa ada kegiatan berarti juga sama saja bohong dan jauh lebih tidak efisien.
Sekian kronologis insiden kebakaran tersebut. Saatnya kembali ke topik permasalahan kita, apakah insiden tersebut sebuah musibah atau sebuah anugerah? Atau mungkin sebuah musibah yang membawa anugerah?
Dari tempat aku memandangnya, insiden kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba ini adalah suatu musibah yang dahsyat efeknya. Bayangkan saja, seharian kami dibiarkan idle tanpa melakukan kegiatan produktif apapun. Apapun! Masalahnya adalah pekerjaan hari ini itu hanya akan menambah kerjaan di hari-hari berikutnya. Idle hari ini sama saja dengan lembur hari esoknya. Siapa yang menginginkan hal demikian? Bukannya segala sesuatu telah diatur sedemikian rupa sesuai porsinya masing-masing? Porsi double kerjaan dalam satu hari sama saja dengan bunuh diri secara perlahan, methaporically.
Well, aku yakin tidak hanya aku yang merasakan hal demikian. Pasti banyak pegawai lain yang merasakan ketidaknyamanan ini. Tapi ya namanya juga musibah ya. Kebanyakan tidak dapat kita antisipasi sebelumnya sehingga untuk menghadapinya kita perlu banyak-banyak bersabar dan mencari hikmah yang terselip dari musibah tersebut.
Nah, yang selanjutnya menjadi sorotan adalah segelintir pihak yang menganggap insiden ini sebagai anugerah. Mengapa? Sebab insiden ini secara legal memperbolehkan mereka plesiran di luar kantor pada jam kantor. Apakah ini salah? Tentu tidak ada yang dapat mempermasalahkan mereka, sebab kebijaksanaan pihak berwenang sendiri yang 'melegalkan' tindakan mereka. Namun dari sisi hati nurani, jelas mereka salah. Tidak selayaknya kita tertawa bahagia atas sebuah musibah yang terjadi.
Well, semua ini pada akhirnya kembali ke nurani kita masing-masing. Apakah kita melakukan hal yang benar atau hal yang keliru adalah kita sendiri yang menilainya.

Sekian entri kali ini, semoga ada hikmahnya bagi kita semua.
Wassalam.