Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2015

ITF 2015

Beberapa minggu ini selain sibuk beradaptasi di kantor yang baru, saya juga disibukkan oleh urusan kepanitiaan di event lomba Indonesian Tax Festival 2015 yang diadakan oleh teman-teman Ikatan Mahasiswa Pajak STAN. Lomba ini adalah lomba pajak tingkat nasional yang diikuti secara berjenjang oleh 43 tim yang berasal seluruh kota di Indonesia. Proses seleksinya ketat sekali. Untuk tahap awal, ke-43 tim tersebut harus mengikuti tes tertulis di region masing-masing dan juga wajib mengirimkan esai sebagai representasi timnya.

Pada awalnya teman-teman panitia meminta saya berperan sebagai validator soal yang disiapkan oleh panitia, sekaligus sebagai perancang soal-soal untuk dimunculkan di babak final nanti. Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya saya juga diminta untuk menilai esai-esai yang dikirimkan oleh tim-tim peserta lomba. Ini pekerjaan yang tidak mudah sebenarnya.

Menilai sebuah karya tulis bukanlah pekerjaan yang gampang. Diperlukan pengetahuan yang luas dan wawasan yang menyeluruh untuk dapat memberikan penilaian yang baik dan tidak bias. Dengan kompetensi saya saat ini yang masih serba nanggung baik dari sisi praktisi maupun akademisi, saya tidak bisa menerima tawaran tersebut pada awalnya. Namun demikian, tim panitia berharap keras supaya saya bisa turut membantu mengingat tidak ada satu pun dosen yang menyanggupi tawaran tersebut. Sebagai opsi terakhir, saya hanya bisa mengiyakan dan mengucap doa dalam-dalam.

***

Babak preliminary pun dimulai secara serentak di seluruh Indonesia. Beberapa hari kemudian saya menerima surel dari panitia berisi daftar esai dari ke-43 tim yang beradu dalam babak prelim ITF 2015 disertai dengan lembar dan kriteria peniliaian esai. Esai ini akan menjadi penentu siapa-siapa saja tim yang akan tembus ke babak 15 besar di Jakarta bulan September nanti. Untung saja saya tidak sendirian di sini. Ada dua orang teman saya yang turut membantu memberikan penilaiannya atas esai-esai tersebut. Dengan begini penilaian atas esai bisa menjadi lebih objektif. Syukurlah.

Pengalaman menilai esai-esai itu ternyata seru juga. Saya jadi mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai pandangan mahasiswa-mahasiswa seluruh Indonesia tentang pajak. Kebetulan, tim panitia menyediakan tiga tema besar yang dapat secara bebas dipilih oleh peserta. Ketiga tema tersebut ialah pajak sebagai tonggak kemajuan negeri, implementasi pajak dalam kehidupan masyarakat, dan pajak sebagai bagian dari budaya bangsa. Dari ketiga tema tersebut berkembang menjadi banyak variasi tulisan. Ada yang mengkritisi pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak (DJP), juga ada yang memberikan solusi atas constrain yang dihadapi DJP. Selain itu, ada juga secara emosional menyuarakan kegusarannya atas praktik-praktik kotor yang dilakukan oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang suka menggelapkan pajak.

Pemikiran-pemikiran tulus dan idealis seperti inilah yang perlu didengarkan oleh teman-teman di kantor. Bagaimana melihat praktik berjalan dari jendela yang berbeda. Selama ini, sebagai fiskus saya terbiasa melihat masalah hanya melalui satu jendela saja. Padahal, terdapat banyak jendela untuk melihat masalah-masalah tersebut. Dengan melihat dari "jendela" tulisan mahasiswa ini saya jadi sadar bahwa sesungguhnya terdapat beberapa hal yang dapat digunakan untuk menggali potensi perpajakan. Bagaimana masyarakat yang diwakili oleh mahasiswa-mahasiswa ini mampu memunculkan masalah-masalah yang awalnya tampak dangkal, namun sesungguhnya mungkin tidak demikian.

Salah satu permasalahan yang diangkat ialah mengenai paradigma negatif rakyat terhadap pajak. Inilah yang dianggap sebagai akar masalah ketidakpatuhan mayoritas masyarakat dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Ada beberapa root cause yang dianalisis, salah satunya menyangkut tidak adanya transparansi pemerintah dalam membelanjakan anggaran hasil pungutan pajak tersebut. Meskipun dinnyatakan bahwa pajak tidak memberikan kontraprestasi kepada pembayar/penanggung pajak, tulisan yang saya baca tersebut menggarisbawahi pentingnya ada "sedikit" kontraprestasi yang tangible dari pemerintah kepada Wajib Pajak. Gunanya untuk apa? Gunanya untuk memperlihatkan penghargaan kepada Wajib Pajak atas pengorbanan dan dedikasi untuk complie pada aturan perpajakan.

Ada beberapa masalah lain yang diungkapkan dalam esai-esai itu. Beberapa di antaranya hanya mempertegas kondisi berjalan dengan memberikan deskripsi umum atas status quo, namun ada juga yang dengan cerdas mengupas permasalahan dan mengkritisi kebijakan pemerintah atas suatu masalah. Dengan membaca tulisan-tulisan itu, saya menjadi cukup optimis dengan generasi muda kita. Ternyata masih banyak calon penerus kita yang peduli dengan bangsa ini melalui ide dan gagasan yang menarik. Semoga idealisme seperti ini tetap terjaga pada saat yang bersangkutan melanjutkan karier di jenjang selanjutnya. Apakah itu karier yang berkaitan langsung dengan pajak ataupun tidak, kesadaran untuk taat menjalankan kewajiban perpajakan tetap harus dipertahankan. 

***

Akhirnya proses penilaian itu selesai malam ini. Lembar penilaianku kukirimkan melalui surel ke tim panitia sembari mengucap bismillah, semoga tim terbaiklah yang tembus ke babak berikutnya. 

Lamat-lamat kuperhatikan kondisi kantor yang masih terang. Wah, sudah sepi rupanya. Saatnya pulang.

***

Oh, iya.. Selamat berakhir pekan rekan-rekan sekalian! ^^

Sabtu, 13 Juni 2015

Menjelang Ramadhan 1436 H

Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam. Ia adalah bulan yang penuh berkah dan maghfirah. Ia adalah bulan suci yang harus diisi dengan ibadah untuk mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Ia tidak akan lama lagi tiba. Penuh syukur dalam hatiku, masih dapat dipertemukan dengan Ramadhan tahun 1436 H ini. Alhamdulillah.... ^^

Berbicara tentang Ramadhan tahun ini, ada banyak sekali perubahan dalam hidupku dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu. Ramadhan tahun ini aku kembali bekerja. Berbeda dengan dua kali Ramadhan sebelumnya, di mana aku masih berstatus mahasiswa tugas belajar. Tentu ini menghadirkan tantangan tersendiri, yaitu seputar manajemen waktu yang ketat. Keseimbangan waktu untuk bekerja, ibadah, dan kehidupan sosial harus terjaga. Dulu waktu berstatus mahasiswa aku tidak terlalu kesulitan menyeimbangkan ketiga hal ini. Namun untuk Ramadhan tahun ini, terus terang saja, semuanya menjadi jauh berbeda.

Sebagai umat muslim, aku tentu tidak ingin melewatkan keberkahan Ramadhan begitu saja, tanpa menuai manfaat yang dalam darinya. Pekerjaan yang menumpuk di kantor tidak seharusnya menjadi hambatan untuk beribadah. Semuanya harus berjalan seimbang. Di situlah pentingnya manajemen waktu yang ketat selama bulan Ramadhan ke depan. Dan itu adalah tantangan bagiku. Juga bagi kita semua yang berada pada kondisi serupa. 

Aku berharap aku dan kita semua diberikan kesempatan, kesehatan, keluangan waktu, dan kejernihan pikiran untuk dapat menjalani bulan Ramadhan tahun ini dengan baik dan lancar. Mari sucikan hati, luruskan niat. Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.

Melalui postingan ini juga aku juga ingin meminta maaf kepada rekan-rekan pembaca, seandainya dalam satu tahun sebelumnya terdapat hal-hal yang tanpa sengaja telah membuat luka di hati rekan-rekan sekalian. Mohon keikhlasannya untuk memberikan maaf.

Marhaban ya Ramadhan

Jumat, 24 April 2015

Makna Lain Yudisium

Tanggal 23 April 2015 kemarin adalah hari yang bersejarah buatku bersama ke-110 anak D4 Reguler STAN lainnya. Kami akhirnya melalui satu fase terbesar dalam hidup kami, yaitu yudisium. Melalui fase ini, status kami tidak lagi sebagai mahasiswa berstatus pegawai tugas belajar, tetapi akan kembali ke kantor masing-masing sebagi pegawai penuh. STAN yang menjadi tempat kami menuntut ilmu dan mengembangkan wawasan dalam dua tahun terakhir ini pun harus kami tinggalkan. Cepat atau lambat saya pasti akan rindu dengan suasana kampus Ali Wardhana.

Yudisium memiliki makna lain buat saya. Bagi saya, yudisium ini memberikan makna bahwa setiap visi yang jelas dan diinternalisasi dengan baik oleh watak, pikiran, dan tingkah laku akan membawa visi tersebut ke tempat pencapaiannya. Ketercapaian visi hanya dapat terjadi jika kamu yakin sepenuhnya itu bisa terealisasi. Yakin sampai ke tingkat kamu dapat memvisualisasikan dengan jelas pencapaian atas visi tersebut.

Contoh paling populer dari ini adalah kisah alm. Walt Disney saat merealisasikan Disney Land. Sama-sama kita ketahui, Walt Disney meninggal beberapa tahun sebelum Disney Land selesai dibangun. Yang menarik adalah ketika istri Walt Disney diwawancarai oleh wartawan mengenai pendapatnya tentang hal tersebut. Menanggapinya, beliau menjawab, "Percayalah, dia sudah melihatnya.". Demikianlah proses visualisasi atas visi berjalan. Walt Disney telah membayangkan dengan sangat jelas akan seperti apa Disney Land nantinya, setiap detailnya.

Di awal perkuliahan, sewaktu pertama kali menyandang status mahasiswa Diploma IV, saya bertekad untuk menjadi salah satu lulusan terbaik di kampus ini. Lulusan terbaik di sini tidak melulu melihat indeks prestasi di kampus, tetapi juga prestasi-prestasi lain di luar kampus, serta nilai tambah yang dapat diberikan ke orang lain. Saya pun mencatat visi saya tersebut, menuliskan beberapa misi untuk menjelaskan bagaimana cara mencapainya. Setelah itu saya melakukan visualisasi atas visi tersebut. Dalam dua tahun saya membayangkan saya akan lulus dari kampus ini tersenyum bangga pada pencapaian-pencapaian yang berhasil diraih.

Dua tahun kemudian, alhamdulillah segalanya berhasil saya dapatkan "hampir" sesuai apa yang saya bayangkan dua tahun yang lalu. Hampir, tidak persis. Sejujurnya dulu saya membayangkan diri saya sebagai lulusan terbaik kampus, namun kenyataannya saya belum berhasil merealisasikan itu. Saya hanya duduk di peringkat kedua dengan indeks prestasi kumulatif 3,73, berbeda tipis dengan teman baik saya, Fauziah Noor yang menempati posisi pertama dengan indeks prestasi kumulatif 3,74. Apakah itu membuat saya puas? Tentu saja tidak. Saya sedikit kecewa. Hanya saja, saya cukup terhibur dengan keakuratan visualisasi visi saya. Dengan setiap keterbatasan yang saya miliki dan ketidakberuntungan yang harus saya hadapi, saya hanya tertinggal 0,01 poin untuk melengkapi keseluruhan visi saya selama berkuliah  di Diploma IV STAN. Itu semua merupakan nikmat Allah SWT yang perlu disyukuri.

Selain dari tolak ukur indeks prestasi, semuanya mampu saya realisasikan. Alhamdulillah. Selama dua tahun kuliah di Diploma IV ini saya mampu mengukirkan prestasi dengan memenangi beberapa kompetisi yang diikuti. Selain itu, di sela-sela kesibukan perkuliahan saya tetap mampu melestarikan pengatahuan dengan aktif mengajar akuntansi dan perpajakan ke teman-teman Diploma III yang saya yakin sepenuhnya dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi mereka dan juga bagi saya. Atas setiap pencapaian tersebut saya harus mengucap syukur ke Pencipta Semesta, alhamdulillah.

Yudisium bukanlah akhir. Yudisium adalah awal kehidupan yang baru. Saya tidak boleh berpuas diri sekarang. Masih banyak yang harus saya raih di depan sana. Di kesempatan lainnya, saya ingin terus mengasah kemampuan visualisasi visi ini, dan saya tidak boleh gagal kali ini.

Terakhir, selamat yudisium teman-teman.. Semoga keberhasilan selalu bersama kita. Aamiin YRA.

Yudisium Diploma IV Reguler, 23 April 2015, di Gedung G STAN

Pelepasan balon sebagai simbolisasi pelepasan status kemahasiswaan

Selasa, 21 April 2015

Possibilities

Hello!

Here I am, back to Jakarta again after the passed 2 weeks were delighfully spent in Makassar. All for the sake of the big day: Yudisium. What is yudisium you might ask? Yudisium is a farewell. Time for me to say farewell to my college and all people in it. Time for me to say farewell to my status as a college student, and say hello to my new status: a fiscus. Eventually all of us in STAN will face this yudisium thing. I'm so glad I could face it in two days. I'm burning with excitement at this very moment.

However, the fact that I will go back to work in the near future concerns me slightly. The replacement of the place I will work to is what concerns me the most. Oh my.. I have no idea where it could be. In Makassar? In Jakarta? Or any other places? Every possibility is widely open. I hope for the best, of course. However, looking at my family's condition right now, i think I need to work not so far from home.. In Makassar.

The situation at home is not so good right now. I could see this clearly just now when I left home. My mom and my grandpa's tears when seeing me left somehow awoke me. I just realize how enormous my role in their life. My mom and my grandpa need me the most. I should become a better son to my mom and a sweet grandson to my grandpa. They seems powerless without me around. As you know, family is number 1 priority for me. Consequently, i have to set loose of my carreer opportunity and my love. All for the sake of my family. I know this situation will be hard for Dewi. Hopefully she will understand and support me throughly.

On the other hand, if destiny shows me the least expected way, no sweat. I have made several plans about it. I will continue to pursue my career in teaching financial or governmental accounting. I could be useful in teaching on those areas as my subsidary career. It will create additional income too. Eventually, I plan to teach in my beloved college, STAN, after I meet the stated requirements.

Whatever it is, i believe it must be the best for me. Afterall, Allah SWT always know what best for us. So why should I overthink again?

Rabu, 31 Desember 2014

Catatan Akhir 2014

Dalam hitungan jam tahun 2014 akan berakhir. Ada banyak sekali cita-cita yang saya harapkan tercapai tahun ini, namun tampaknya belum dapat saya capai sehingga mau tidak mau tertunda ke tahun-tahun berikutnya. Ini menyedihkan tentu saja. Namun demikian, ada juga beberapa hal positif yang tidak terduga sama sekali yang terjadi di tahun ini. Baiklah, mari kita mulai review tahun 2014 ini, semoga dapat menjadi bahan evaluasi untuk diperbaiki di tahun-tahun berikutnya.

Dari aspek pengembangan diri baik jasmani maupun rohani tidak begitu banyak peningkatan seperti apa yang saya harapkan. Keimanan dan ketaqwaan saya begini-begini saja. Jalan di tempat. Tidak banyak berubah. Kualitas ibadah saya juga masih belum konsisten. Secara pribadi saya sangat kecewa dengan ini. Saya harus menyiapkan terobosan untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah saya untuk pembangunan.

Saya juga masih buruk dalam mengelola keuangan. Beberapa hal yang bukan kebutuhan tetap saja dibeli, padahal saya sadar itu tidak penting. Saya semakin malas membaca, juga menulis. Terlalu banyak waktu yang habis untuk media sosial. Terlalu banyak waktu terbuang percuma dengan bermain game. Astaga, tanpa sadar tahun 2014 berlalu hanya dengan hal-hal tidak penting itu!

Kemudian beralih pada beberapa pencapaian positif, saya senang tahun ini saya mempunyai kesempatan untuk mengikuti lomba-lomba di bidang akuntansi dan perpajakan. Alhamdulillah saya dan teman-teman mampu meraih prestasi tertinggi di lomba akuntansi CPA Australia 2014, Simposium Karya Tulis IAI, Tax Championship Trisakti 2014, dan Trisakti Economic and Business Fair & Competition 2014. Adalah suatu kehormata bagi saya untuk bisa berkompetisi bersama Rahmad Karim Harahap, Fauziah Noor, dan Rifky Kusuma Wardana. 

Pencapaian positif lainnya ialah saya memperoleh banyak kesempatan untuk menyalurkan ilmu saya kepada teman-teman yang membutuhkan. Ada beberapa kesempatan untuk mengajar privat akuntansi dasar dan menengah kepada adik-adik kelas di STAN dan di Binus University. Kesempatan ini sangat berharga bagi saya, sekaligus sangat menantang. Saya juga pada akhirnya bergabung dengan Pusat Kajian Akuntansi dan Kebijakan Publik STAN di divisi riset. Di sini saya berencana untuk membantu membangun kembali divisi riset STAN untuk bisa aktif dalam membuat karya tulis ilmiah di bidang akuntansi dan kebijakan publik. Semoga tahun depan bisa terlaksana dengan lebih intens.

Last but not least, alhamdulillah rumah yang kami bangun dari nol di awal tahun dapat rampung 80% tahun ini. Sekarang rumah tersebut sudah dua tingkat dan sudah dapat ditempati oleh orang tua dan adik-adik saya. Awal tahun depan insya Allah rumah ini akan rampung seluruhnya. Doakan ya teman-teman....

Tahun 2015 mendatang saya telah mencatat beberapa resolusi yang ingin dicapai. Resolusi paling besar yang akan saya raih ialah menyelesaikan D4 dengan baik, lalu mendapatkan penempatan sesuai dengan apa yang saya bersama keluarga saya harapkan. Aamiin.. Perjuangan di kampus ini sedikit lagi berakhir. Tidak sepantasnya saya berleha-leha dan berpangku tangan! Semangat kawan!

Sabtu, 21 Juni 2014

Sad story..

It's great to see you smiling every time.
It's wonderful to see you laughing every moment.
I'm happy only by seeing you from far away.
From the sideline, that's my space.

Sometimes, I'm trying to enter your surrounds.
Not a pinch of minute,
that happiness fades away so suddenly.
No more smile, only frown.
What right do I have to do this to you?

So, I go back to my spot.
Waiting...
And keep waiting.
Loving from far away.
Wondering, 
when would this feeling of mine reach you?

Till one day, I think I should end this hope.
That invitation.. Your answer..
You were so cruel.

What mistakes have I done to you?
How could you be so cruel to the one who loved you?

Selasa, 31 Desember 2013

2014 dalam Resolusi

Bintaro, 31 Desember 2013
Suasana hujan sendu di penghujung tahun


Banyak yang bilang resolusi itu bisa disusun kapan saja, tidak perlu menunggu akhir tahun untuk bisa disusun seperti yang sedang ngetrend saat ini. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan opini tersebut. Menurut saya kita perlu menentukan hari yang tepat dalam menuliskan resolusi kita agar secara periodik dapat kita evaluasi pencapaiannya. Bisa dikatakan sebagai tujuan hidup jangka pendek kita. Jika kita membuat resolusi setiap hari yaa bisa sih, tapi gimana cara mengukur pencapaiannya? Apalagi kalo resolusi itu hanya disusun di memori otak yang terbatas, tidak dituliskan. Sangat naif menurut saya. Idealnya menurut saya mengukur pencapaian itu sebaiknya secara periodik, bisa setengah tahunan atau tahunan. Kalo saya pribadi memilih mengukurnya secara tahunan sebagaimana seperti apa yang telah saya terapkan sejak tiga atau empat tahun yang lalu.

Terbukti, melalui pendekatan saya ini, hidup saya menjadi lebih terstruktur terutama dalam mencapai apa-apa saja yang ingin saya raih dalam satu tahun. Contoh nyatanya adalah ketika memasuki awal tahun 2013, saat itu saya membuat resolusi begini: "Saya ingin lulus DIV STAN, kembali ke kampus lagi, belajar dengan tekun dan meraih posisi teratas dalam jenjang akademik selama masa-masa awal perkuliahan." Pada saat saya menuliskan resolusi tersebut, kepastian dibukanya pendaftaran DIV STAN masih belum jelas, simpang siur. Namun saya yakin pendaftarannya pasti dibuka, dan saya harus lulus. Alhamdulillah, Allah memang Mahaadil. Berkat usaha keras dan doa saya bersama orang tua, saya bisa lulus di sana, dan meraih peringkat satu sejurusan persis seperti apa yang saya cita-citakan. Itulah pentingnya menuliskan resolusi, kawan. Kamu akan fokus dalam mengejarnya.

Jadi menurut saya menuliskan resolusi di setiap pergantian tahun masehi/hijriyah adalah hal yang positif dan perlu untuk dibudayakan. Untuk itulah, melalui post saya kali ini, saya ingin menuliskan resolusi hidup saya untuk tahun mendatang, 2014. Beberapa resolusi di sini adalah pengembangan dari resolusi tahun sebelumnya, dan sebagian lagi adalah resolusi baru yang ingin mulai saya tempuh di 2014. Tidak perlu berpanjang-panjang lagi, berikut adalah resolusi 2014 saya.

Aspek pribadi:
  • Saya ingin memperbaiki diri saya lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang lebih ramah, santun, toleran, dan empati kepada sesama. Ini akan saya mulai dari sikap santun dan empati kepada teman-teman di sekitar, lalu mengupayakan untuk memperluas jangkauan tersebut. Harus saya akui ini adalah sebuah masalah yang pelik, sebab saya adalah seorang introvert sejati. Lebih senang sendiri dan cenderung tertutup. Namun saya harus bisa lepas dari semua itu. Dalam hal ini ada satu orang yang patut dijadikan teladan. Beliau adalah Pak Yond Rizal, mantan dosen saya di semester 7 kemarin. Beliau adalah seorang introvert juga, namun dalam kesehariannya beliau bisa menjelma sebagai seorang ekstrovert. Mungkin lebih tepatnya, extroverted introvert. Yah, saya harus bisa menjadi seperti beliau dalam satu tahun mendatang.
  • Sampai di penghujung tahun 2013 ini saya merasa masih sangat lemah dari sisi rohani. Saya adalah seorang muslim, namun rasanya masih sangat dangkal ilmu saya tentang Islam. Hafalan Qur'an pun masih seadanya saja. Di tahun 2014 mendatang, insya Allah saya akan mengejar ketertinggalan tersebut. Target awal saya adalah memulai membaca literatur-literatur tentang syariat Islam, sunnah-sunnah, serta memperbanyak hafalan Qur'an dan mengamalkannya dalam kehidupan saya. Ini sangat penting sebab saya akan membangun keluarga nantinya. Bagaimana bisa saya menjadi kepala keluarga yang andal jika pondasi agama saya sendiri masih lemah? Ini jelas tamparan bagi saya, tetapi saya percaya saya dapat berkembang dan mengejar ketertinggalan ini. Di samping itu, saya juga akan membiasakan shalat fardhu di masjid, puasa sunnah senin-kamis, serta membiasakan menunaikan shalat tahajjud di setiap malam. Mengenai hafalan Qur'an saya menargetkan diri saya telah hafal seluruh jus 30 dan surah Ar-Rahman tahun depan, insya Allah. 
  • Sifat saya yang cenderung boros dan sulit menarik garis antara kebutuhan dan keinginan adalah tantangan terbesar yang harus dapat saya atasi di tahun 2014 mendatang. Saya tidak ingin lagi hidup berfoya-foya. Saya ingin berkeluarga dan mendedikasikan hidup saya pada keluarga saya dan masyarakat. Untuk itu pola hidup sederhana harus kembali dicanangkan. Sebisa mungkin harus menghindari kebiasaan hedon yang saya sadari sangat buruk dampaknya bagi kondisi finansial saya. 
  • Membaca dan menulis saya pandang sebagai aktivitas yang penting dan saling melengkapi. Dengan banyak membaca saya menjadi bisa menulis dan dengan menulis saya menjadi bisa menyalurkan ide saya kepada khalayak sebagai bentuk aktualisasi diri saya. Untuk itu di tahun 2014 esok saya menargetkan diri saya untuk memperbanyak jumlah buku yang tamat dibaca setiap bulannya. Tahun 2013 kemarin saya dapat menyempatkan membaca 1-3 buku setiap bulannya, sehingga di tahun 2014 ini saya menargetkan 2-4 buku setiap bulannya. Ini penting karena saya menyadari bahwa buku/bacaan adalah jendela ilmu dan hanya dengan itulah kita dapat memperluas jangkauan cakrawala pengetahuan. Nah, di samping membaca, saya juga akan mempertajam kemampuan menulis saya. Melalui blog ini saya akan belajar menuliskan opini saya tentang kondisi-kondisi di sekitar saya, mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah, berita-berita yang berkembang, event-event tertentu, dan sebagainya. Di samping itu, saya juga akan mencoba menulis dalam bahasa Perancis sekedar untuk melatih diri agar kemampuan berbahasa Perancis saya tersebut tidak lenyap.
  • Kebugaran fisik saya pandang sebagai hal yang tak kalah pentingnnya. Untuk itu di tahun 2014 mendatang saya menantang diri saya untuk lebih rutin lagi berolah raga melatih kebugaran fisik saya. Jogging, renang, badminton, dan futsal adalah sarana-sarana yang dapat saya manfaatkan untuk mencapai resolusi ini. Di samping berolah raga, saya harus dapat mengendalikan pola makan saya. Saya harus sebisa mungkin menghindari junk food dan minuman bersoda. Porsi makan juga harus bisa dikendalikan, salah satunya dengan aktif berpuasa sunnah Senin-Kamis. Perbanyak minum air putih demi kesehatan ginjal dan organ tubuh secara keseluruhan. Kurangi kebiasaan begadang yang tidak perlu, jaga pola waktu tidur minimal 4 jam per hari apapun kondisinya.
  • Di tahun 2014 mendatang saya harus mengendalikan diri saya dengan lebih baik lagi. Salah satu bentuk pengendalian diri di sini adalah dengan menghindari penggunaan media sosial secara berlebihan seperti yang sudah-sudah. Saya akan lebih membatasi akses saya pada media sosial, terutama Twitter yang saya rasa lebih banyak mudhorat-nya daripada manfaatnya. Dengan demikian saya akan memiliki waktu lebih untuk peningkatan kapasitas saya sebagai seorang manusia yang berilmu. Dan satu lagi, saya ingin mengurangi sifat saya yang sering bersikap 'narsis' di depan orang-orang. Telah banyak teman yang mengkritisi sikap saya ini, dan saya patut mempertimbangkannya. Saya pikir kritik mereka ada benarnya dan saya harus berubah demi peningkatan nilai saya sebagai seorang insan.
  • Di akhir tahun 2014 saya merencanakan untuk menikah. Telah ada seorang wanita yang sangat menarik perhatian saya berkat keindahan hatinya dan kesucian agamanya. Tidak perlu saya sebutkan siapa nama wanita tersebut dan darimana asalnya. Yang jelas saya sangat menghormati dan menyayangi dia dan ingin menjadikannya pendamping hidup saya. Saya yakin dengan bersamanya saya dapat bertransformasi sedemikian rupa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari siapa saya sekarang. 
Aspek sosial:
  • Keluarga adalah pendukung utama saya dalam hidup ini. Untuk itu di tahun 2014 mendatang saya ingin terus menjaga kedekatan saya dengan keluarga besar saya di Makassar. Saya ingin lebih aktif menghubungi mereka ketika saya sedang lowong, meski hanya sekedar mananyakan kabar. Terutama untuk mama dan bapak saya, mereka telah semakin renta. Saya harus makin pengertian kepada mereka dan menjadi pendengar yang baik terhadap perkataan mereka.
  • Di tahun 2014 saya akan memperbanyak teman dan memperluas jaringan saya, namun tentu dengan tetap mempertahan relasi-relasi yang telah terbangun sebelumnya. Saya yang sekarang cenderung sulit untuk berteman karena kepribadian saya yang tertutup, sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Namun di tahun 2014 dan tahun-tahun setelahnya, saya harus berubah. Harus! Saya teringat dengan pesan mas Safatul tahun lalu, beliau menilai saya akan sempurna jika saya mampu membangun relasi dengan lebih baik lagi dan tidak menutup diri seperti kondisi saya sekarang. Untuk itu, pada tahun 2014 ini saya akan aktif berinteraksi dengan teman-teman sejawat dan rekan-rekan kerja serta lebih terbuka kepada sesama sebagaimana pesan mas Safatul tersebut.
  • Di samping kedua hal tersebut di atas, pada tahun 2014 mendatang saya ingin melihat diri saya aktif dalam memberikan infaq dan sedekah kepada sesama. Saya harus menyadari bahwa pada setiap keping harta saya terselip hak-hak mereka yang tidak mampu, untuk itu saya harus secara lebih aktif lagi berbagi kepada mereka semua.
Aspek karir dan pendidikan:
  • Dari aspek pendidikan, pada tahun 2014 saya masih akan menjalani semester 8 dan 9 di program DIV ini. Terkait hal tersebut, saya harus mampu mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi yang telah saya raih di semester 7 kemarin, yaitu menjadi yang terbaik se-jurusan. Kalau kemarin saya menjadi yang kedua se-angkatan, kalah dari Rifky Kusuma Wardana (Kika), maka pada tahun 2014 mendatang saya harus bisa menjadi yang terbaik se-angkatan. Namun demikian, saya harus tetap menjaga hati saya agar terhindar dari penyakit kesombongan yang menyesatkan. Saya harus menjaga hati saya untuk tetap tawaddhu sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah SAW.
  • Saya juga perlu mempersiapkan bahan untuk penyusunan skripsi saya. Saya bermimpi untuk menyusun skripsi yang apik dalam bahasa Inggris. Dengan kemampuan saya yang sekarang, ini mungkin akan sulit. Namun sekali lagi, saya yakin bisa belajar dengan baik, mengembangkan diri saya dan meraih target tersebut. 
  • Dari aspek karir, saya tidak ingin ketinggalan pengetahuan dan wawasan di bidang perpajakan selama mengikuti perkuliahan DIV ini. Untuk itu saya perlu mengaktualisasi diri saya untuk aktif membaca update aturan-aturan perpajakan terbaru demi menyamakan level saya dengan level teman-teman di kantor. Saya tidak boleh berdiam diri dan berpangku tangan. Saya tidak boleh nyaman berdiam di zona nyaman. Saya harus aktif belajar dan terus memacu diri demi kesuksesan karir saya di dunia, tentu dengan tidak melupakan akhirat saya.

Demikian resolusi hidup saya untuk tahun 2014. I do have a good feeling about starting this new year! Semoga apa yang saya rencanakan sesuai dengan perencanaan Allah SWT, sehingga dengan segenap usaha dan doa, saya dapat merealisasikan semuanya. Bismillahirrohmaanirrohim.



***

Senin, 23 Desember 2013

Cinta dan Sahabat

I'm so confused with myself these days. Penuh kesimpangsiuran, juga kegalauan. Apapun yang saya pikirkan tak bisa jauh-jauh dari dia (sorry, no mention). Pelik sekali. Ini dipersulit dengan fakta bahwa dia adalah sahabat dekatku. Friendzone, yes, di situlah masalahnya. Akhirnya untuk beberapa saat saya putuskan untuk menutup perasaanku rapat-rapat padanya. Biarlah saya dan Tuhan yang tahu, dia dan mereka tidak perlu tahu.
Satu bulan berlalu, dua bulan, tak terasa satu semester pun berlalu. Perasaanku padanya masih sukses ku rahasiakan pada siapa saja, juga beberapa orang sahabat terdekatku. Tidak ada yang tahu. Yup, memang saya adalah tipe orang yang sangat pandai menyembunyikan perasaan ketika saya menginginkannya. Satu semester berlalu dan semuanya berjalan lancar, hingga tiba suatu masa ketika saya terdorong untuk mengakhiri semua ini. Saya harus segera ngomong padanya. Harus!

Saya menjadi terdesak untuk menyatakan perasaanku padanya karena mengetahui dia mungkin sedang didekati oleh temanku sendiri. Saya pun menjadi semakin tidak tenang, sensitif yang berlebihan, dan jengah. Saya tidak mau kehilangan dia. Paling tidak saya ingin dia tahu kalau selama ini ada lelaki yang mencintainya. Setulus hatinya. Yeah, that's me. Tentu keputusanku ini telah kupikirkan matang-matang untuk segala konsekuensinya. Konsekuensi yang berat jelas menunggu di depan sana dan saya harus siap. I have to take the risk.

Akhirnya kutetapkan tanggal pertemuan kami. Berdua saja. Untukku menyatakan perasaan sayang kepadanya. Pada saat itu di sebuah tempat makan, di lantai dua, kami duduk berhadap-hadapan. Saat itulah saya menyatakan perasaanku yang sebenarnya kepadanya. Benar-benar di luar dugaan, saya akhirnya berhasil menyatakannya! Meskipun prosesnya tidak mudah dan tidak selancar yang saya harapkan, semuanya telah terjadi. Sesuatu yang awalnya saya pikir mustahil untuk dilakukan, kini telah terlaksana. Dan kini saya harus bersiap menerima konsekuensi dari semua ini. Persahabatan kami adalah taruhannya.

Saat itu saya memang ingin menyatakan perasaanku saja. Hanya sebatas itu, tidak sampai memintanya menjadi pasanganku. Well, kalian tahu sendiri kan, saya tidak ingin pacaran. Dan saya akan terus memegang prinsip itu. Saya ingin menjadikannya istriku, namun untuk saat ini saya belum siap, jujur saja. Tindakanku ini kuharap dapat memberiku tempat spesial di hatinya. "Semoga dia mengerti maksudku melakukan ini", ujarku dalam hati.

Pun begitu, reaksinya saat itu cukup mengherankan. Dia tidak menunjukkan reaksi kemarahan atau gejala jengkel padaku. Dia hanya tersenyum dan tertawa. Penuh misteri, saya menjadi semakin tidak mengerti. Bagaimana bisa dia tertawa sementara saya sedang berjuang menghadapi rasa grogi yang terus memaksa timbul di permukaan? Sudahlah, mungkin saja dia menganggap ini hal yang biasa. Namun di sisi lain, saya menjadi sedikit tenang dengan reaksinya itu. Saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan konsekuensi besar yang mengancam persahabatan kami, pikirku.

***

Namun, ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. Hubungan kami setelah kejadian itu menjadi sangat berbeda. Hambar, tidak ada senyuman maupun candaan. Sangat awkward. Apa yang saya cemaskan menjadi nyata. Kami tidak lagi seperti dulu. Dia berubah. Saya terus mencoba menghubunginya, menanyakan kabar, namun hanya dibalas sekedarnya. Dingin sekali. Saya sangat sedih pada keadaan hubungan kami saat itu.

Tidak tahan lagi, akhirnya kuputuskan untuk membicarakan ini dengan sahabat karibnya (yang tidak lain adalah sahabatku juga). Saya tidak perlu menceritakan segalanya dari awal sebab dia rupanya telah mengetahui apa yang telah terjadi. Saya pun meminta solusi padanya. Alhamdulillah dia itu sangat membantu dalam memberikan solusi tersebut. Dia meminta saya untuk tetap tenang dan sabar menunggu. "Segalanya akan cair dengan sendirinya", pesannya.

Menanggapi pesan sahabat saya tersebut, tidak banyak hal yang dapat saya lakukan. Saya hanya bisa menunggu sembari berharap hubungan kami akan membaik dengan sendirinya. Paling tidak untuk sekarang. Meski begitu, saya akan terus berdoa agar diberikan kemudahan untuk mendekati hatinya. Amin YRA.

Demikianlah kondisi hubungan kami saat ini, semoga ada perubahan yang nyata di masa depan. Saya tidak ingin kehilangan dirinya. Tidak sebagai cinta, pun sebagai seorang sahabat.


***

Senin, 16 Desember 2013

Buat Apa Berharap Surga?

Alkisah, tiga orang sedang menanti di pintu surga. Mereka adalah seorang pejuang, seorang bijak, dan seorang dermawan. Setelah melewati saringan yang cukup berat, sampailah mereka pada ujian yang terakhir. Ujian ini sangat penting dan amat menentukan sukses-tidaknya mereka dalam mencapai surga.
Orang pertama dipanggil. Ia berjalan dengan langkah yang gagah.
“Apa yang telah engkau lakukan di dunia?”, Tanya malaikat.
“Aku adalah pejuang yang gagah berani. Aku telah membebaskan negeriku dari cengkeraman penjajah.”
Anehnya, si malaikan sama sekali tidak terkesan.
“Mengapa engkau melakukan ini semua?”, Tanya malaikat penuh selidik.
“Aku ingin berjuang bagi banyak orang. Yang kucari adalah ridha Allah. Aku ingin mati syahid.”, jawab lelaki itu. Kali ini suaranya terdengar agak bergetar.
“Engkau bohong!”, kata malaikat tegas, “Sebenarnya engkau menginginkan namamu harum dan termasyhur. Engkau ingin disebut pahlawan yang gagah berani. Sekarang jawablah pertanyaanku, bukankah semua yang kau inginkan itu sudah kau dapatkan di dunia?”

Orang kedua dipanggil dan kepadanya diajukan pertanyaan yang sama.
“Aku adalah seorang bijak,” katanya, “Hidupku kuabdikan dengan memberikan motivasi dan pencerahan untuk orang banyak. Banyak orang yang telah berubah setelah mendengarkan kata-kataku.”
Namun malaikat sama sekali tak terkesan.
“Mengapa engkau melakukan semua ini?” tanyanya datar.
“Aku ingin mengabdikan hidupku di jalan Tuhan. Aku ingin semua orang berduyun-duyun ke arah kebaikan. Aku ingin mengubah nasib bangsaku.”
“Engkau bohong!”, kata si malaikat. Ia menatap tajam si orang bijak. Begitu tajamnya hingga si orang bijak pun akhirnya tertunduk.
“Engkau melakukan semua itu supaya orang-orang memanggilmu dengan sebutan orang bijak. Engkau ingin menjadi terkenal, ingin dielu-elukan. Engkau menginginkan kemasyhuran. Bukankah engkau sudah mendapatkan kekayaan dan pengaruh yang luar biasa? Bukankah apa yang engkau cari sudah kau dapatkan semua di dunia??

Akhirnya, tibalah giliran orang ketiga.
“Selama hidupku aku selalu membelanjakan hartaku untuk mereka yang membutuhkan. Aku rajin bersedekah. Aku melakukan ini semua karena aku sangat mengasihi orang lain.”
“Engkau bohong!”, ujar malaikat. “Semua itu kau lakukan agar engkau disebut dermawan. Bukankah semua yang kau cari itu telah kau dapatkan di dunia? Lantas apa lagi yang kau cari di surga?
Pembaca sekalian, pertanyaan manakah yang lebih penting: “Apa yang kita lakukan” atau “Mengapa kita melakukannya”?
Bagi orang lain, pertanyaan yang paling penting adalah “apa yang kita lakukan”, sementara bagi diri kita sendiri, pertanyaan yang terpenting adalah “Mengapa kita melakukannya”.

Coba renungkan sebentar paragraf di atas. Pertanyaan pertama berkaitan dengan tindakan, sementara pertanyaan kedua berkaitan dengan motivasi. Sebuah tindakan yang sama bisa saja dilatarbelakangi oleh motivasi dan niat yang berbeda. Namun bagi orang lain, terlepas dari apapun motivasinya, yang terpenting adalah apakah tindakan tersebut bermanfaat bagi orang banyak. Dalam hal ini tidak ada bedanya apakah kita menolong orang karena semata-mata ingin menolong maupun karena ingin dikenal dan dipuji. Hal yang terpenting adalah apa yang kita lakukan itu bermanfaat.
Bagaimanapun, bagi diri kita sendiri yang paling penting justru adalah motivasinya. Hanya motivasi yang benarlah yang membuat perbuatan kita bermakna. Hanya motivasi yang benarlah yang dapat membuat kita merasakan kebahagiaan sebagai akibat dari tindakan kita.
Di dunia ini berlaku hukum pertukaran. Tindakan apapun yang kita lakukan selalu menghasilkan pertukaran. Pertukaran tersebut senantiasa terjadi secara tepat. Apa yang kita berikan selalu akan kita terima kembali hingga semuanya menjadi impas.
Ketika kita menyumbang korban bencana dengan maksud menciptakan citra yang positif, kita akan mendapatkannya. Di sini pertukaran telah terjadi dengan seimbang. Materi bertukar dengan citra. Ketika berbicara di depan orang banyak untuk mendapatkan popularitas, kita juga akan mendapatkannya. Kita telah mencapai apa yang kita targetkan. Pertukaran yang seimbang telah terjadi, kali ini spiritualitas telah ditukarkan dengan popularitas.
Jadi semuanya sudah tuntas. Semua yang kita cari sudah kita dapatkan. Lantas buat masih mengharapkan surga?
Surga adalah sebuah konsep spiritualitas. Walaupuns sering digambarkan sebagai tempat yang indah dengan kebun-kebun yang segar, makanan yang enak, dan bidadari yang cantik, surga sebetulnya bukanlah sebuah konsep materi. Oleh karena itu, surga hanya dapat membukakan pintunya kepada manusia yang masih menyisakan pertukaran spiritualitas di dalam setiap tindakannya.
Bila semua tindakan kebaikan yang kita lakukan telah kita terima balasannya dalam bentuk materi, ketenaran, citra, pengaruh, dan sebagainya, saya kira tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk spiritualitas. Bukan begitu?
Tidak ada lagi “ruang rahasia” yang hanya diketahui oleh kita dan Tuhan. Semua ruangan telah menjadi ruangan publik. Padahal, hanya penyisaan ruangan bagi spiritualitas tersebutlah yang menghasilkan kebahagiaan dan surga pada akhirnya. 
Marilah kita lakukan sebuah kebaikan kepada seorang nenek tua di jalan. Berikan ia uang dalam jumlah yang agak besar dan perhatikan air matanya yang menetes. Mungkin nenek itu akan terpana, berterima kasih, serta mendoakan kita. Nikmati sajalah pengalaman itu Ini adalah sesuatu yang sangat spiritual, sesuatu yag hanya merupakan rahasia kita dan Tuhan.

Namun sering kali ada bisikan di hati untuk menceritakan kejadian yang mengharukan ini kepada orang lain. Kalau kita merasa keinginan tersebut begitu kuat, cobalah kita ikuti. Hal yang menarik, begitu kita selesai menceritakan hal tersebut, seketika itu juga kebahagiaan yang kita rasakan sebelumnya menghilang dan lenyap begitu saja. Ini bukan berarti bahwa kita tidak mendapatkan balasan apapun. Sama sekali tidak. Ini hanya menunjukkan bahwa balasan spiritual yang tadi kita rasakan telah berganti balasan materi. Kebahagiaan telah kita tukarkan dengan citra dan popularitas.

Kita telah menukarkan SURGA dengan DUNIA!!

***

Disadur dari Buku You Are Not Alone karangan Mas Arvan Pradiansyah.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.


Senin, 25 November 2013

Bukan Title yang Kami Cari!

Jadi, kelas kami, 8D Reguler, lolos ke final kompetisi badminton se-angkatan. Ah, serunya! Setelah gagal di babak semifinal kompetisi futsal, akhirnya mimpi kami mencapai final terwujud di cabang olahraga badminton ini. Begitu lelah perjuangan hingga sampai ke tahap ini, semuanya berkat teman-teman yang setia mendukung. Kebetulan pada kompetisi kali ini, saya didaulat sebagai salah satu pemain di ganda putra. Bersama suwondo, alhamdulillah sebelum tiba ke gala final ini, kami belum pernah terkalahkan. Ini tentu membangun kepercayaan diri kami dengan begitu rapi. Di tunggal putra kami ada Yudi Dwiprasanto, pemain lihai yang sangat terampil dalam melakukan drop-shot. Sementara itu di ganda putri kami ada pasangan Hana-Nia yang dua-duanya begitu baik mengembalikan serangan-serangan lawan.

Nah, di final kami ditunggu oleh allstars-nya badminton. Siapa lagi kalo bukan tim veteran dari angkatan di atas kami. Tim yang nyaris tanpa celah. Sesuai prediksi, kami kalah. Well, dibantai lebih tepatnya. Yudi dan pasangan saya dan Suwondo tidak bisa berbuat banyak dalam membendung serangan tim lawan. Hana dan Nia justru bisa berbuat banyak dengan merepotkan pasangan ganda putri mereka yang diisi oleh Mba Rina dan Mba Defi. Mereka memang tampil out-performed siang tadi. Meski demikian Hana dan Nia tetap dapat dikalahkan 2 set langsung, secara ketat tentu saja. 

Alhasil, kami dikalahkan di semua laga. 3-0.

***

Sedih sih, tapi gak papa. Toh kami ke sini bukan mencari title. Itu tidak penting buat kami. Yang terpenting adalah kekompakan! Satu hal yang saya dan teman-teman yakini, kekompakan kami sepanjang turnamen berjalan adalah yang terbaik, tak ada tandingannya. Itulah yang terpenting, kawan! Bukannya title atau hadiah! 
^^;


Foto bersama supporter lengkap. Bravo 8D Reguler!!

Senin, 14 Oktober 2013

Liburan Akhir Semester Pertama

Ini adalah liburan kedua saya selama menjabat sebagai mahasiswa Diploma IV STAN. Kami seangkatan sedang liburan akhir semester. Liburan panjang 3-4 minggu sambil menyambut semester berikutnya. Liburan yang seharusnya menyenangkan dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk menyegarkan pikiran dan benak sejenak, sebelum memasuki ditempa kembali di semester berikutnya. Namun apakah liburan kali ini akan berakhir menyenangkan atau tidak? Well, nobody knows..

Pada momen liburan kali ini, saya bertekad untuk mengisinya dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat dan tidak untuk bermalas-malasan sebagaimana liburan-liburan terdahulu terlewati. Telah banyak kegiatan positif yang telah masuk dalam daftar kegiatan selama liburan kali ini. Di antaranya adalah memperdalam expertise di bidang akuntansi yang selama ini telah banyak terlupakan. Saya rasa ini penting dan pasti akan sangat membantu ketika menyusun skripsi 1-2 tahun mendatang.

Dalam rangka memperdalam pengetahuan akuntansi ini, saya bertekad untuk membaca seluruh PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), seluruhnya. Ya, seluruhnya. Di samping itu saya juga perlu membaca beberapa literatur akuntansi yang ditulis oleh Kieso/Wigant dan/atau Stice Skousen. Dalam prosesnya saya akan memperdalam pembelajaran mengenai standar pelaporan akuntansi menggunakan IFRS (International Financial Reporting Standard) yang dipergunakan di Indonesia saat ini. Akan begitu banyak yang harus dipelajari, saya berharap waktu liburanku kali ini cukup untuk itu semua.

Selain itu, saya juga berniat mempelajari kiat-kiat menyusun skripsi yang benar. Sebagai tahap persiapan, saya akan membaca contoh-contoh skripsi yang dibuat oleh senior-senior di kampus. Tidak hanya itu, saya juga ingin membaca skripsi-skripsi dari universitas/kampus lain yang mungkin dapat memberikan masukan dan membangun paradigma saya tentang proses penyusunan ini.

Doakan yah rekan.
Semoga segalanya lancar dan berakhir indah.

:)

Jumat, 29 Maret 2013

My Desktop Broken Again (?)

I don't know what the h*ll happen this time..
My desktop suddenly turned off and I couldn't turn it on ever again...


It started when I played Deadspace 3 on my desktop, then suddenly it got shutdown itself like there was no power plugged. I tried to turn it on several time and every effort i did just went in vain. What happened actually?!
In a case like this most likely the problem was in the PSU (Power Supply Unit). So, I need to check and do some troubleshooting to my PSU. For your information, my PSU is Super Flower Active PFC Golden Green 550W 90%. It's one of the best PSU so far with excellent efficiency. Most people believe this PSU is good enough to maintain your desktop work with high efficiency. Nonsense!
It's good PSU they said, yet it ruined my desktop like rubbish!
*sigh*

-curahan hati yang sedang sedih dan kesal-

:'(

Rabu, 27 Maret 2013

My Dear Smartphone, Shiro, Came Back!

Folks says, "what yours will be yours."

Yes, that's true.
Recently I've experienced it myself.

This is the story...

In my previous post, I've talked about  the incident of my smartphone, named Shiro, lost and i didn't have any idea where the hell it was at that time. As far as I could remember, I still used Shiro continuously right after I and my friends get off the car and come into one restaurant located on Jalan Sabang for taking our lunch. I realized that it had been lost when I couldn't find it anywhere when we started our lunch altogether. I tried to call it and the operator lady told me that the number I just called was not active or was not in the coverage area. Then, I came back to our car, I supposed it must be lying on the front seat where I sat, yet I could find it nowhere. I was so sad all day long wondering why every belonging of mine was lost / taken by unappropriate one. For the record, Shiro is the fourth consecutive lost at that time after my watch, my spectacles, and my dear shoes this very month. :(

Right after I was sure that Shiro was lost, I decided to send one text message to Shiro asking the one who find it to inform me as soon as possible and to give it back to me. Of course I wouldn't forget to tell him that if he do that, I'd give him some considerable reward. Just in case, this person was an honest one.

Almost 3 days I waited for the call / reply about the whereabout of Shiro, yet there's no sign of it. It made me desparete utterly. :'(

Then, on the 4th day, on Tuesday dawn, suddenly I got one text message from person who found Shiro. I am so shocked and happy all at once. Then I replied the text message asking for more information. Praise God, he intended to give Shiro back to me and as far as I saw it, he was a generous and honest person. Maybe I was to positive back then. I don't know. Actually this could be some ways to tricked me or what. Once again, I don't know. Just like that, we made an agreement to meet on the place where I lost Shiro, Jalan Sabang. :)

We agreed to meet afterwork at 08.00 pm. So, right after I finished my job, I called Tora, my dear friend, to accompany me meeting him. I and Tora had dinner in Kios Pelangi while waiting the call of this person. Not long after we finished our dinner, this person called me and asked me to meet him on Kopi Tiam Oey. Well, Kopi Tiam Oey lying next to Kios Pelangi so there was no problem. I paid dinner before leaving Kios Pelangi then walked inside Kopi Tiam Oey, got a seat. Right after I and Tora sat on our seat, this person called me. I answered him and told him to come inside. 2 minutes we waited, and this person came in front of me smiling. He is a young, skinny, shorty, maybe on his 20s, black-skinned man wearing black shirt and casual jeans. The way i see him i thought he must be a college student. Thought, in the end all my assumptions were proved wrong. He was a waiter in a decent restaurant at Jalan Sabang who by any chance found my Shiro while doing his job. So, I told him to order food and beverage. After that, I asked him to show me my Shiro, and he gave it to me. Praise God, my Shiro came back to me! :')

To convince myself, I examined every tiny parts of Shiro. Overall it's in a good condition. I found several scratches though but that didn't matter at all. Inside Shiro I checked everything. The system, the applications, the appearances, and so on, yet I couldn't find anything suspicious. I was so happy back then. I thanked this person whose name is Shiddiq generously by giving his reward as promised. I thanked him repeatedly, again and again. I am so grateful. :')

After that I paid his food and asked permission to go home first. He didn't mind. We parted, I drived Tora back to his office, and I went home with big smile on my face and Shiro inside my pocket. Praise God, Alhamdulillah...

All that story talk about one thing, "What yours will be yours." If I and Shiro mean to be together, then we will be together.





Love you Shiro, may I have the chance to use you properly in the future.
^^

Sabtu, 23 Maret 2013

Kehilangan Banyak Hal, Apa yang Salah?

Beberapa hari ini terjadi rentetan musibah di dalam kehidupanku. Dimulai dengan kehilangan kacamata saat liburan di Bali, lalu kehilangan sepatu kerja, terakhir kehilangan smartphone. Anehnya, ketiga barang tersibut hilang dalam rentang waktu hanya tiga hari. Bayangkan!

Rentetan kehilangan itu dimulai dengan kehilangan kacamata saat liburan di Bali beberapa hari yang lalu, persisnya di mushollah area wisata Garuda Wisnu Kencana kira-kira pukul 15.00 WITA pada tanggal 18 Maret 2013. Padahal kacamata tersebut hanya ditinggal sebentar lho. Tidak sampai 5 menit, tiba-tiba kacamata tersebut lenyap tanpa bekas di tempatku menaruhnya. Berikutnya adalah kehilangan sepatu yang saat itu tertinggal di mobil Travel yang kami sewa untuk mengelilingi Bali. Ini terjadi pada tanggal 19 Maret 2013. Untuk kehilangan sepatu ini murni adalah kecerobohan saya. Selajutnya adalah kehilangan salah satu barang paling berharga yang saya memiliki saat itu, smartphone saya yang terjadi pada tanggal 20 Maret 2013. Saya sebut smartphone tersebut berharga bukan karena histhorical cost-nya, tetapi lebih kepada nilai fungsi smartphone tersebut (termasuk segala data di dalamnya) :(

Musibah tersebut terjadi secara berurutan dari tanggal 18 sampai 20 Maret 2013. Sangat menyedihkan dan jujur saja itu sangat menakutkan. Saya takut ini merupakan teguran dari Sang Khalik kepadaku yang mungkin lupa menunaikan kewajiban. Na'udzubillahi min dzalik.
Sempat saya terpikir, mungkin ini adalah cara Allah SWT mengajarkan padaku bahwa tidak ada hal di dunia ini yang sempurna. Tidak ada yang abadi. Makhluk hidup saja tidak abadi, apalagi benda? Dengan cara begitu saya dituntut untuk belajar sabar, sabar, dan sabar. Sabar menerima musibah kehilangan tersebut dan senantiasa ber-positive thinking kepada-Nya. Lagipula sangat tidak masuk akal jika kehilangan benda remeh temeh saja sampai membuat kita terpuruk, bukan? Apalagi kalau sampai durhaka pada Allah. Ingat, barang-barang tersebut bisa dibeli, tetapi bagaimana dengan iman? Iman tidak dijual dimana pun sobat! Peliharalah imanmu dengan baik, meskipun kamu harus kehilangan banyak hal karenanya.

Sejauh ini ada beberapa hikmah yang kuperoleh dari musibah ini. Salah satunya adalah bahwa saya terlalu sering membeli barang-barang yang bisa dibilang tidak penting. Saya berbelanja tidak berdasarkan skala prioritas yang berdampak pada buruknya kondisi keuanganku saat ini. Allah SWT dengan ke-mahabijaksana-Nya mengajarkan padaku untuk kembali hidup sederhana dan tidak berlebihan. Buktinya setelah kehilangan barang-barang tersebut saya tidak terlalu merindukannya. Mengapa? Karena sejatinya barang-barang tersebut tidak terlalu ku butuhkan. Barang-barang yang hanya menunjukkan prestige. Barang-barang yang dibeli karena memperturutkan hawa nafsu. Sehingga ketika barang-barang tersebut lenyap, life's go on. Hidup tetap berlanjut tanpa ada masalah yang berarti.
Sungguh luar biasa bijaksananya Allah dalam menempa diriku. Terima kasih ya Allah. Terima kasih. Puji syukur atas segala petunjuk dan rahmat-Mu yang tak pernah lelah.


Jadi, kesimpulannya adalah bisa jadi rentetan musibah ini merupakan cara Allah untuk mendekatkanku kembali kepada-Nya. Toh, Allah tak akan pernah memberikan cobaan/musibah yang tak mampu dijalani oleh hamba-Nya bukan? Aku yakin akan mampu melewati cobaan ini, sehingga nanti setelah berhasil melewatinya, tidak salah lagi saya telah menjelma menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amiiiin...

Sekian post saya kali ini. Semoga bermanfaat buat kita semua :')